Neona hanyalah gadis SMA biasa. Hidupnya datar: bangun, sekolah, tugas, pulang. Suatu sore, saat sendirian di kelas, ia menatap sebuah cermin besar di pojok ruangan. Permukaannya tiba-tiba beriak seperti air.
“Apa… ini?” bisiknya.
Tanpa sempat mundur, tubuhnya tersedot. Ia jatuh di halaman kastil megah dengan menara menjulang. Langit berwarna ungu gelap, dipenuhi bintang berputar seperti pusaran.
Sebuah papan batu menyala di depan matanya:
“Akademi Aetherya, Sekolah Sihir untuk Para Terpilih.”
Seorang guru berjubah hitam mendekat. “Selamat datang, Neona. Kami sudah menunggumu.”
────୨ৎ────
Hari-hari Neona mendadak penuh keajaiban. Ia belajar membaca bintang, meracik ramuan dari bunga yang bisa bernyanyi, dan menunggangi sapu terbang.
Sayangnya, semua berakhir kacau. Ramuan meledak, sapu jatuh, bahkan mantranya tak pernah berhasil. Murid-murid lain tertawa, tapi Lyra si gadis ceria berambut perak, menepuk bahunya.
“Jangan khawatir! Aku juga dulu sering bikin ledakan kecil,” katanya sambil tersenyum.
Arven, murid pendiam dengan mata perak berkilau, hanya berkomentar singkat, “Kau berbeda. Ada sesuatu dalam dirimu.”
Meski merasa diterima, Neona tak tenang. Setiap kali menatap cermin aula besar, ia melihat dirinya sendiri, tertidur di bangku kelas sekolah nyata.
Suatu malam, Arven mengajaknya menyelinap ke perpustakaan terlarang. Buku-buku tua berterbangan, bisikan aneh memenuhi udara. Ia membuka sebuah kitab tebal dan menunjukkan tulisan kuno.
“Akademi Aetherya hanyalah bayangan yang diciptakan jiwa-jiwa yang ingin lari dari kenyataan. Jika kau tak kembali, kau akan hilang dari dunia asalmu.”
Neona terhenyak. “Jadi… ini semua hanya ilusi?”
Arven menatapnya lekat. “Bukan ilusi. Lebih tepatnya… dunia pilihanmu. Tapi untuk hidup, kau hanya bisa memilih satu.”
Keeseokan hari nya, Neona berdiri di depan cermin besar. Lyra menggenggam tangannya erat. “Kalau kau pergi, Neona… dunia ini akan lenyap. Aku akan lenyap.”
Air mata Neona jatuh. “Aku ingin tinggal… tapi aku tahu aku tak bisa. Hidupku ada di luar sana.”
Dengan lirih, ia berbisik, “Terima kasih sudah menerimaku.” Lalu ia menempelkan tangannya pada cermin.
Cahaya menyilaukan menyelimuti segalanya.
Neona terbangun di kelasnya. Suara gurunya terdengar jelas, teman-teman sibuk menulis. Semua terasa normal, seolah ia hanya tertidur.
Namun ketika membuka buku catatannya, ia terhenyak. Di halaman pertama terukir tulisan perak:
“Neona Aetherya, murid kelas Pemula.”
Jantungnya berdegup kencang. Dari sela halaman, jatuh sehelai bulu ungu bercahaya… lalu perlahan hancur menjadi butiran debu, menyusup ke dalam kulitnya.
Sejenak, pandangannya berkunang. Ia melihat bayangan Lyra tersenyum samar di kaca jendela kelas.
“Neona… kau akan kembali.”
Neona membeku. Apakah dunia itu benar-benar sudah berakhir, atau justru baru saja dimulai?
Karya: Zaskhia Putri