Aku hanyalah seberkas cahaya kecil
terselip di langit malam yang terlalu luas.
Keinginan datang bertubi-tubi,
tuntutan berdiri di segala arah,
seolah aku wajib bisa segalanya
tanpa ruang untuk runtuh.
Aku juga ingin hidup yang tenang—
hari tanpa tekanan,
napas tanpa beban,
langkah yang tidak terus-menerus diukur.
Namun setiap kali aku kalah,
rasa bersalah tumbuh diam-diam:
aku merasa gagal membawa harapan mereka.
Padahal seharusnya,
aku hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi siapa pun,
melainkan untuk menyelamatkan diriku sendiri.
Banyak orang mengira hidupku damai,
tertata rapi, penuh tawa.
Mereka tak pernah tahu
betapa sering aku bertarung dengan hal-hal
yang melukai hatiku tanpa suara.
Di balik senyum yang kupakai setiap hari,
ada luka yang kupaksa mengering sendiri—
tanpa pelukan, tanpa obat.
Aku tertawa agar tidak ditanya.
Aku kuat agar tidak diremehkan.
Aku bertahan agar tidak mengecewakan.
Tapi jika semuanya terus kupaksakan,
jika aku terus berjalan sambil mengabaikan lelahku sendiri,
ke mana hidup ini akan membawaku?
Menjadi siapa aku nantinya—
jika bahkan diriku sendiri
tak pernah benar-benar kudengarkan?
—Gea Olivia